Mengatasi Kebiasaan Menunda-nunda
Menghentikan Kebiasan Menunda-nunda
Kebiasaan menunda, dalam bahasa Inggris adalah “procrastination”, adalah kebiasaan menunda pekerjaan hingga menit terakhir. Kebiasaan ini bisa menjadi masalah besar dalam hal karir dan kehidupan pribadi. Masalah yang timbul di antaranya adalah: peluang yang terlambat dimanfaatkan, kacau-balaunya jam kerja, stres, perasaan tak berdaya, rasa geram, dan rasa bersalah. Artikel ini akan menjelajahi akar penyebab kebiasaan menunda dan memberikan beberapa langkah praktis untuk menghentikannya.
1. Gantikan “Harus” dengan “Ingin”
Pikiran bahwa Anda mutlak harus mengerjakan sesuatu adalah sumber utama kebiasaan menunda. Ketika Anda bilang pada diri sendiri bahwa Anda harus melakukan sesuatu, Anda sedang menyatakan bahwa Anda sedang dipaksa untuk melakukan hal itu, sehingga otomatis menimbulkan rasa geram dan pemberontakan. Kebiasaan menunda muncul sebagai mekanisme pembelaan diri untuk menjauh dari hal tidak menyenangkan ini. Jika tugas yang Anda tunda sungguh-sungguh ada batas waktu, maka ketika batas waktu semakin dekat, ketidaknyamanan yang terkait dengan tugas itu berubah menjadi ketidaknyamanan lebih besar jika Anda tidak segera memulainya.
Solusi dari hambatan mental pertama ini adalah menyadari dan menerima bahwa Anda tidak harus melakukan sesuatu yang tidak ingin Anda lakukan. Meskipun ada konsekuensi serius, Anda selalu bebas untuk memilih. Tidak ada yang bisa memaksa Anda menjalankan tugas seperti cara Anda sekarang. Segala keputusan yang telah Anda ambil di masa lalu telah membawa Anda ke tempat yang sekarang. Jika Anda tidak suka dengan kondisi Anda saat ini, Anda bebas mengambil keputusan berbeda, dan hasil yang berbeda akan mengikutinya. Juga sadarilah bahwa Anda tidak melakukan penundaan di semua bidang hidup Anda. Bahkan penunda terburuk sekali pun adakalanya tidak pernah menunda. Mungkin Anda tidak pernah ketinggalan acara TV favorit, atau Anda tidak pernah melewatkan chatting setiap hari di forum online favorit Anda. Dalam setiap situasi, Anda punya kebebasan memilih. Jadi jika Anda menunda memulai proyek yang “harus” Anda lakukan tahun ini, sadarilah bahwa Anda memilih untuk melakukannya karena kehendak bebas. Kebiasaan menunda jarang terjadi pada tugas yang Anda rasa bebas untuk dilakukan atau tidak dilakukan.
2. Gantikan “Selesaikan” dengan “Mulailah”
Kedua, berpikir tentang tugas sebagai suatu hal besar yang harus diselesaikan hampir dipastikan akan membuat Anda menundanya. Ketika Anda terfokus pada ide bahwa menyelesaikan suatu tugas di mana Anda tidak dapat membayangkan secara jelas langkah-langkah penyelesaiannya, membuat Anda merasa galau. Anda lalu mengasosiasikan ketidaknyamanan ini kepada tugas tersebut dan menundanya selama mungkin. Jika Anda menghardik diri sendiri, “Saya harus menyelesaikan urusan pajak saya hari ini,” atau “Saya harus menyelesaikan laporan ini sekarang,” maka Anda sangat mungkin akan merasa kewalahan dan menunda pekerjaan itu.
Solusinya adalah dengan berpikir untuk memulai bagian kecil dari tugas itu, dan bukannya merasakan bahwa Anda harus menyelesaikan keseluruhannya. Gantikan, “Bagaimana saya harus menyelesaikan ini?” dengan “Langkah kecil apa yang dapat saya mulai sekarang juga?”. Jika Anda memulai pekerjaan, pada akhirnya pekerjaan itu akan selesai juga. Jika salah satu pekerjaan yang ingin diselesaikan adalah membersihkan garasi, membayangkan bahwa Anda harus menyelesaikan pekerjaan sekaligus akan membuat Anda galau, dan Anda lalu menundanya. Tanyakan diri Anda bagaimana caranya memulai satu bagian kecil dari pekerjaan. Misalnya, pergi ke garasi dengan buku catatan, sekedar menuliskan beberapa ide untuk tugas 10-menit guna sedikit mengubah tumpukan rongsokan yang ada. Mungkin memindahkan satu atau dua onggok rongsokan ke tempat sampah mumpung Anda sedang di situ. Jangan kuatir tentang menyelesaikan sesuatu yang signifikan. Fokuskanlah pada apa yang dapat dikerjakan sekarang. Jika Anda lakukan ini dengan frekuensi yang cukup, pada akhirnya Anda akan memulai bagian akhir pekerjaan, dan tak terasa pekerjaan itu kemudian selesai.
3. Gantikan Sikap Perfeksionis dengan Kerendahan Hati Manusiawi
Kesalahan berpikir jenis ketiga yang menyebabkan penundaan pekerjaan adalah sikap perfeksionis. Membayangkan bahwa Anda harus menyelesaikan pekerjaan secara sempurna pada kali pertama akan menghambat Anda dari memulainya. Mempercayai bahwa Anda harus melakukan sesuatu secara sempurna adalah resep untuk stress, dan Anda akan mengasosiasikan stree itu dengan tugas, berarti Anda meng-kondisikan diri untuk menghindarinya. Maka Anda akan menunda tugas itu sampai menit terakhir, sehingga Anda punya alasan untuk itu. Sekarang waktunya menjadi tidak cukup untuk melakukannya secara sempurna, dan Anda “terhindar” dari kesalahan dengan bilang bahwa itu bisa sempurna andai saja Anda punya lebih banyak waktu. Tetapi bila Anda tidak memiliki tenggat waktu spesifik, sikap perfeksionis dapat menyebabkan Anda menunda tanpa akhir. Jika Anda bahkan tidak pernah memulai suatu pekerjaan yang ingin Anda lakukan dengan baik, mungkinkah itu disebabkan oleh sikap perfeksionis Anda sendiri?
Solusi untuk sikap perfeksionis adalah mengijinkan diri Anda untuk menjadi rendah hati secara manusiawi. Pernahkan Anda menggunakan perangkat lunak yang sempurna di segala aspeknya? Saya tidak yakin. Sadarilah bahwa pekerjaan tidak sempurna yang diselesaikan hari ini lebih baik daripada pekerjaan sempurnya yang tertunda tanpa akhir. Sikap perfeksionis juga terkait erat dengan pemikiran tentang tugas sebagai sesuatu yang besar. Gantikan bayangan tugas besar yang diselesaikan sempurna dengan langkah kecil pertama yang tak sempurna. Draft pertama Anda bisa jadi sangat, sangat kasar. Anda selalu bebas untuk merevisinya, lagi dan lagi. Misal, jika Anda ingin menulis artikel 5000-kata, buatlah draft pertama yang hanya terdiri dari 100 kata. Itu lebih sedikit daripada panjang paragraf ini.
4. Gantikan Kesengsaraan dengan Jaminan Bersenang-senang
Hambatan mental keempat adalah mengasosiasikan kesengsaraan dengan tugas. Artinya, Anda percaya bahwa melakukan suatu pekerjaanakan merampas banyak kesenangan dari hidup Anda. Untuk menyelesaikan pekerjaan ini, haruskan Anda menunda seluruh kehidupan Anda? Apakah Anda mengharuskan diri untuk terpingit, bekerja 24 jam, tidak pernah bertemu keluarga, dan tidak memiliki waktu bersenang-senang? Hal itu akan sangat memberatkan Anda, tapi banyak orang melakukan itu ketika mereka mendorong diri sendiri untuk bekerja. Membayangkan sekian lama bekerja keras hampir tanpa istirahat setiap hari dalam kesendirian tanpa waktu bersenang-senang adalah cara terbaik untuk menjamin kebiasaan menunda-nunda.
Solusi untuk itu adalah melakukan persis kebalikannya. Pastikan terlebih dahulu bagian bersenang-senang dari hidup Anda, kemudian jadualkan pekerjaan di sela-sela itu. Mungkin sepertinya ini kontraproduktif, tapi psikologi pembalikan ini sangat efektif. Putuskan terlebih dahulu kapan waktu yang akan dialokasikan setiap minggunya untuk keluarga, hiburan, olahraga, aktivitas sosial, dan hobi. Berikan jaminan berlimpah pada diri sendiri untuk aktivitas favorit yang menyenangkan. Lalu batasi waktu untuk jam kerja setiap minggu sebagai sisanya saja. Mereka yang memiliki prestasi puncak dalam setiap bidang cenderung mengambil lebih banyak waktu libur dan bekerja lebih sedikit daripada mereka yang ketagihan-kerja. Dengan memperlakukan waktu kerja Anda sebagai sumberdaya terbatas alih-alih monster yang susah dikendalikan yangmelahap setiap aspek hidup Anda, Anda akan mulai merasa lebih seimbang, dan mulai lebih terfokus dan efektif dalam menggunakan waktu kerja Anda. Banyak bukti bahwa waktu kerja optimal buat kebanyakan orang adalah 40-45 jam. Bekerja lebih lama dari itu sebenarnya malah mengakibatkan dampak buruk pada produktivitas dan motivasi, karena dalam jangka panjang, hanya sedikit pekerjaan sesungguhnya yang diselesaikan. Apa yang akan terjadi jika Anda hanya diijinkan bekerja hanya sekian jam per minggu? Bagaimana jika saya berkata pada Anda, “Anda hanya diijinkan bekerja 10 jam minggu ini?” Rasa sengsara Anda akan mengalami pembalikan, bukan? Alih-alih merasakan bahwa bekerja menyebabkan perampasan kesenangan Anda, Anda akan merasa sedang dirampas dari pekerjaan. Anda akan menggantikan, “Saya ingin bermain” dengan “Saya ingin bekerja.” Motivasi Anda untuk bekerja akan meningkat sangat tinggi, dan segala bayangan untuk menunda-nunda akan lenyap.
Saya juga sangat menyarankan Anda untuk sedikitnya libur sehari penuh setiap minggu, tanpa pekerjaan apa pun. Hal ini akan sangat menyegarkan Anda dan membuat Anda mendambakan untuk memulai kerja di minggu berikutnya. Memiliki waktu libur sehari-penuh akan meningkatkan motivasi kerja Anda dan membuat Anda sulit menunda. Jika Anda tahu bahwa besok adalah hari libur Anda, Anda akan sulit menunda, karena Anda tidak mengijinkan pekerjaan itu mengganggu hari libur Anda. Jika Anda berpikir bahwa setiap hari adalah hari kerja, pekerjaan akan terlihat seperti tanpa-akhir, dan Anda akan selalu memarahi diri, “Saya harus bekerja.” Jadi, otak Anda akan menggunakan penundaan sebagai garansi bahwa Anda punya sedikit kesenangan dalam hidup.
Use Timeboxing
5. Gunakan Timeboxing
For tasks you’ve been putting off for a while, I recommend using the timeboxing method to get started. Here’s how it works: First, select a small piece of the task you can work on for just 30 minutes. Then choose a reward you will give yourself immediately afterwards. The reward is guaranteed if you simply put in the time; it doesn’t depend on any meaningful accomplishment. Examples include watching your favorite TV show, seeing a movie, enjoying a meal or snack, going out with friends, going for a walk, or doing anything you find pleasurable. Because the amount of time you’ll be working on the task is so short, your focus will shift to the impending pleasure of the reward instead of the difficulty of the task. No matter how unpleasant the task, there’s virtually nothing you can’t endure for just 30 minutes if you have a big enough reward waiting for you.
When you timebox your tasks, you may discover that something very interesting happens. You will probably find that you continue working much longer than 30 minutes. You will often get so involved in a task, even a difficult one, that you actually want to keep working on it. Before you know it, you’ve put in an hour or even several hours. The certainty of your reward is still there, so you know you can enjoy it whenever you’re ready to stop. Once you begin taking action, your focus shifts away from worrying about the difficulty of the task and towards finishing the current piece of the task which now has your full attention.
When you do decide to stop working, claim your reward, and enjoy it. Then schedule another 30-minute period to work on the task with another reward. This will help you associate more and more pleasure to the task, knowing that you will always be immediately rewarded for your efforts. Working towards distant and uncertain long-term rewards is not nearly as motivating as immediate short-term rewards. By rewarding yourself for simply putting in the time, instead of for any specific achievements, you’ll be eager to return to work on your task again and again, and you’ll ultimately finish it. You may also want to read my blog entry on timeboxing.
The writing of this article serves as a good example of applying the above techniques. I could have said to myself, “I have to finish this 2000-word article, and it has to be perfect.” So first I remember that I don’t have to write anything; I freely choose to write articles. Then I realize that I have plenty of time to do a good job, and that I don’t need to be perfect because if I start early enough, I have plenty of time to make revisions. I also tell myself that if I just keep starting, I will eventually be done. Before I started this article, I didn’t have a topic selected, so I used the timeboxing method to get that done. Having dinner was my reward. I knew that at the end of 30 minutes of working on the task, I could eat, and I was hungry at the time, so that was good motivation for me. It took me a few minutes to pick the topic of overcoming procrastination, and I spent the rest of the time writing down some ideas and making a very rough outline. When the time was up, I stopped working and had dinner, and it really felt like I’d earned that meal.
The next morning I used the same 30-minute timeboxing method, making breakfast my reward. However, I got so involved in the task that I’m still writing 90 minutes later. I know I’m free to stop at any time and that my reward is waiting for me, but having overcome the inertia of getting started, the natural tendency is to continue working. In essence I’ve reversed the problem of procrastination by staying with the task and delaying gratification. The net result is that I finish my article early and have a rewarding breakfast.
I hope this article has helped you gain a greater insight into the causes of procrastination and how you can overcome it. Realize that procrastination is caused by associating some form of pain or unpleasantness to the task you are contemplating. The way to overcome procrastination is simply to reduce the pain and increase the pleasure you associate with beginning a task, thus allowing you to overcome inertia and build positive forward momentum. And if you begin any task again and again, you will ultimately finish it.