Indigo
http://kompas.com/kompas-cetak/0401/30/muda/828151.htm
Mempunyai kemampuan lebih kadang membanggakan, tetapi kadang juga menakutkan. Apalagi kalau kemampuan itu awalnya tidak kita sadari.
Masih ingat sama karakter Cole Sear (Haley Joel Osment) di The Sixth Sense? Bagaimana anak seusia dia harus melihat hal-hal yang "kurang wajar" dan membuat dirinya menjadi orang "aneh" di mata kawan-kawannya. Atau karakter Mun (Angelica Lee) di The Eye, yang mendadak mempunyai kemampuan lain setelah menjalani operasi mata.
Film memang sering mengambil inspirasi dari kejadian nyata. Seperti yang dilakukan Pang bersaudara saat menyutradarai The Eye, yang terinspirasi berita di surat kabar mengenai seorang gadis yang bisa melihat hal-hal gaib setelah operasi mata.
Ternyata kawan sebaya kita yang mempunyai kemampuan seperti itu ada banyak. Umumnya malah belum sadar apabila mereka mempunyai kemampuan seperti itu. Seperti yang dialami Tuta, siswa SMU Labs School Rawamangun, mengaku punya “kemampuan lain” semenjak ia masih kanak-kanak. Tapi, boro-boro sadar, mengerti pun tidak. “Orang lain sering melihat gue bercakap-cakap sendirian, ketawa, dan termenung dengan tatapan mata yang kosong,” cetus pemilik nama lengkap Raden Mas Purwandharu. Akhirnya ada yang mengingatkan apabila yang dilihatnya itu hanya khayalan belaka. Sampai-sampai Tuta diminta untuk berlaku secara normal apabila sedang tidak berada di lingkungan keluarga.
Awalnya memang Tuta merasa berbicara dengan manusia normal pada umumnya. Toh pengalamannya itu malah kadang membuatnya ngeri karena akhirnya dia tahu dengan siapa dia bercakap-cakap. Begini ceritanya-dengan intonasi layaknya pembawa acara Kismis. Gara-gara hobi menggambar, dia jadi tau siapa lawan bicaranya, abis gambar yang dibuat Tuta adalah apa yang dia lihat sehari-hari. “Ternyata lawan bicara gue genderuwo,” ujarnya ngeri. Hiii….
Tidak cuma Tuta. Ratih dan Ria pun begitu. Umumnya mereka tidak tahu apabila mereka punya kemampuan seperti itu. Semua dijalani dengan tenang sampai saat umur tertentu tiba-tiba saja mereka sadar bahwa mereka berbeda dengan kawan-kawan yang lain.
Lihatlah Ratih. Teman satu sekolah Tuta ini sadar ketika dia mempunyai kemampuan lebih, yakni melihat nasib orang. “Tapi bukan masalah karier, atau yang lain. Biasanya yang gue ’lihat’ tuh masalah percintaan,” ujar pemilik nama lengkap Ratih Dewi. “Seperti ada yang membisikkan gue saja,” lanjut cewek 18 tahun ini.
Alhasil Ratih malah jadi sering diminta menjadi penasihat spiritual dadakan urusan percintaan. Menurut dia, tingkat akurasi ramalannya bisa sampai 80-90 persen. Walau tidak semuanya berujung pada kisah manis, Ratih kadang harus menceritakan hal yang kurang enak. Putus pacaran, misalnya.
“Kadang tertekan juga. Apalagi kadang orangnya tidak terima hasil ramalan gue. Orang yang gue ramal sampe nangis-nangis. Terus kenapa dia minta diramal. Namanya juga ramalan, konsekuensinya kan ada sendiri,” elak Ratih.
Toh tidak selamanya meramal nasib yang menjadi kemampuan kawan-kawan kita ini. Ria Zhafarina Hadju, siswi kelas III SMU Al-Izhar, mengaku bisa melihat aura orang yang sedang berhadapan dengan dirinya setelah “mata ketiganya” dibuka. “Gue ikutan Indonesia Perkasa. Ekskul tenaga dalam yang ada di sekolah. Lewat ekskul itu gue diajarin jurus pernapasan untuk membuka aura gue,” kenang siswi 16 tahun ini.
“Indigo child”
Ketiga kawan kita ini sadar penuh akan kemampuan indera keenam (sixth sense) yang mereka miliki. Tetapi, daripada melabeli mereka dengan sebutan paranormal cilik, ada label yang lebih pas untuk melihat fenomena seperti ini. Umumnya kawan-kawan kita itu bisa disebut sebagai Indigo child.
Istilah asing nih. Apa pula maksudnya?
“Indigo child itu adalah anak yang dalam kurun waktu 50 tahun belakangan ini semakin banyak lahir. Anak-anak ini memiliki kesadaran yang lebih tinggi daripada kebanyakan orang. Kesadaran mengenai siapa diri mereka dan apa tujuan hidup mereka,” beber psikolog Pamugari Widyastuti.
Maksudnya, anak yang tergolong Indigo child itu memang punya tingkat kepekaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan manusia normal pada umumnya. “Kebanyakan manusia setelah lahir lupa akan esensi rohnya. Karena manusia setelah lahir lebih banyak terkait dengan urusan duniawi,” lanjut Ibu Pamugari. Dan, umumnya anak Indigo ini mencoba mencari kembali hubungannya dengan dimensi yang sifatnya lebih Ilahi.
Tapi, jangan kemudian memukul rata semua orang yang punya sixth sense adalah anak Indigo. Namun, yang anak Indigo pasti punya kemampuan sixth sense.
Jadi, jangan heran apabila anak-anak Indigo memang mempunyai ciri dan sifat yang khas (lihat boks), dan kadang sifat tersebut malah membuat mereka berbeda dengan kawan-kawan sebayanya.
Perbedaan mereka itu justru tidak bisa dibilang sebagai kekurangan mereka. Karena, umumnya anak Indigo sudah sadar apa tujuan hidup mereka ketika dilahirkan di dunia. “Karena mereka sudah tau apa misi mereka dilahirkan ke dunia ini, mereka jadi tidak mudah diberikan dogma-dogma. Serta tidak bisa mudah dimasukkan ke dalam sistem pendidikan kaku yang cenderung mendiskriminasi atau membatasi secara sekuler kehidupan dengan agama. Mereka ini sensitif sekali dengan hal-hal seperti ini, dan mereka cenderung berontak jika bertemu dengan hal-hal seperti ini,” lanjut Ibu Pam.
Dan, jangan heran apabila anak-anak Indigo punya kecenderungan tingkat emosional yang tinggi. “Sering kali mereka disamakan dengan anak hiperaktif karena mereka cenderung spontan dan lantang mengemukakan pendapat pada usia yang masih sangat muda,” tutur Ibu Pam. “Mereka juga bisa melemparkan pernyataan yang penuh kearifan, yang tidak layak diomongkan oleh anak umur 4 atau 5 tahun, yang belum makan asam garam hidup!” lanjut Ketua Jurusan Psikologi Universitas Paramadina ini.
Terpaksa menerima
Suka tidak suka, mereka harus terus melanjutkan hidup mereka dengan segala kemampuan yang mereka miliki. Malah, kadang kemampuan itu bertambah seiring dengan berjalannya sang waktu.
Lihat saja Tuta, awalnya kemampuan cowok kalem ini hanya mampu memvisualisasi makhluk halus. Tetapi, gara-gara sering dicurhatin sama kawan-kawannya, Tuta jadi punya pandangan tentang masa depan sang kawan. “Misalnya, ada kawan yang asyik curhat, tiba-tiba gue meliat ’gambaran’ pohon yang daunnya rontok. Kalo itu tandanya bisa jadi kedua orangtuanya bakalan cerai,” jelas Tuta.
Kemampuan itu juga tidak selamanya menyenangkan. Ratih punya cerita gimana tidak enaknya punya kemampuan lebih seperti itu. Walaupun tidak terlalu jelas bisa melihat sosok gaib yang ada di sekitarnya, Ratih cerita pernah digoda ketika akan tidur. “Waktu gue tidur, gue merasa ada yang napas di samping gue. Abis itu ada bunyi langkah kaki di sekitar gue. Saat membuka mata, sekelebatan bayangan hitam melintas cepat seolah meloncat-loncat di sekitar gue,” kenangnya.
Ya, suka atau tidak, kembali mereka harus menerima anugerah tersebut. Melarikan diri dari kenyataan? Rasanya tidak perlu karena umumnya keluarga mereka memang sudah digariskan memiliki kemampuan tersebut.
“Bisa diistilahkan apabila keluarga lain jalan-jalan ke mal, keluarga gue tuh lebih sering nongkrong di dalem gua. Ayah gue saja ’kerjanya’ dapet wangsit mulu. Sementara ibu gue memang sudah keturunan keraton yang akrab dengan hal seperti ini. Jadi, mau tidak mau gue jadi ikut terus,” beber Tuta.
Lalu, salahkah kami melihat sesuatu yang tidak kalian lihat?
Ayu/Adit Tim Muda